Sabtu, 29 Agustus 2015

COLIC

KOLIK ADALAH

Kolik merupakan suatu bentuk nyeri dengan karakteristik berupa rasa nyeri mencengkram (spasmodik) yang bersifat hilang-timbul secara tiba – tiba. Kondisi ini dapat muncul pada segala usia, dengan kejadian tersering pada bayi, terutama pada usia 3 – 4 minggu. Kondisi ini secara umum terjadi akibat kontraksi otot pada organ – organ dalam perut sebagai mekanisme akibat hambatan terhadap alairan atau pergerakan dari suatu saluran pada tubuh. Gangguan – gangguan tersebut dapat bersifat sederhana dan tidak memerlukan penanganan yang serius ataupun berupa suatu penyakit yang yang dapat menyebabkan komplikasi –komlikasi yang serius jika tidak ditangani secara tepat.

PENYAKIT TERKAIT

Berikut adalah beberapa kondisi umum yang sering menyebabkan timbulnya gejala kolik pada bayi:
  • Akumulasi gas di dalam saluran cerna ketika menyusui atau menangis;
  • Imaturitas sistem saluran pencernaan;
  • Alergi makanan;
  • Kelaparan atau pemberian makan secara berlebihan;
  • Kurang tidur;
  • Pemberian susu yang dihangatkan secara berlebihan;
  • Stimulasi berlebih berupa cahaya, bunyi, dan aktivitas.

Pada usia dewasa, kolik dapat disebabkan oleh beberapa penyakit atau gangguan berupa:
  • Kolesistisis, yaitu peradangan kantung empedu;
  • Batu empedu (kolilitiasiskoledokolitiasis);
  • Batu ginjal (nefrolitiasis);
  • Batu ureter (ureterolitiasis);
  • Serta bebetapa kondisi lain seperti crohn's disease, kolitis unserativa, celiac disease, inflammatory bowel diseasepankreatitis.

PENGOBATAN

Pada kasus kolik yang terjadi pada bayi, tidak penanganan yang dapat diberikan berupa kompres hangat pada daerah perut bayi, pemijatan secara perlahan pada bagian unggung bayi, serta perbaikan cara pemberian susu. Perbaikan tersebut berupa menyusui bayi dalam posisi terduduk serta bayi disendawakan setiap setelah disusui. Pada kasus kolik yang terjadi pada usia dewasa, selain penanganan terhadap penyakit atau gangguan yang mendasari terjadinya kolik, pengangan juga dapat dilakukan dengan pemberian obat – obatan kelompok antispasmodik guna meredakan rasa nyeri yang timbul. Dikenal dua golongan obat antispasmodik, yaitu golongan antimuskarinik (atropine, butropium, dicycloverine, homatropine, hyoscine butylbromide, pinaverium) dan golongan relaksan otot polos (drotverine, papaverine, tiropramide). Beberapa jenis obat obat antispasmodik dapat menyebabkan pandangan menjadi kabur serta rasa kantuk, oleh sebabitu obat tersebut tidak dianjurkan untuk dikonsumsi saat sedang mengemudi serta majalankan mesin.

NYERI PERUT KIRI BAWAH

DEFINISI

Nyeri perut adalah keluhan umum yang sering ditemui dan memiliki sebab yang sangat luas. Lokasi nyeri perut dapat menjadi petunjuk penyebab nyeri berdasarkan letak organ perut. Nyeri perut pada bagian kiri bawah dapat berkaitan dengan gangguan otot perut, organ reproduksi, saluran kemih, atau saluran cerna.

GEJALA

Nyeri perut pada bagian kiri bawah dapat disertai berbagai gejala lain berdasarkan penyebab dasarnya. Gejala saluran cerna lain yang dapat menyertai antara lain keram perut, kembung, kesulitan buang air besar, mencret, mual, dan muntah. Selain itu, dapat terjadi gejala tambahan lain sepertidemam, keram otot, pegal – pegal, nyeri saat buang air kecil atau besar, nyeri saat berhubungan seksual, penurunan berat badan, benjolan pada perut, serta bintik merah pada kulit. Gejala sangat bervariasi tergantung penyebab dasar nyeri perut. Nyeri perut bagian kiri bawah dapat merupakan gejala penyakit berat yang memerlukan penanganan segera, yaitu pada nyeri perut disertaiperdarahan pada wanita hamil, demam tinggi, tidak dapat BAB dan disertai muntah, kekakuan perut, peningkatan denyut nadi, perdarahan dari anus, muntah darah, serta tusukan atau benturan perut.

PENYEBAB

Nyeri perut kiri bawah pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh peradangan kantung usus (divertikulitis). Selain divertikulitis, gangguan saluran cerna lain yang dapat menyebabkan nyeri perut kiri bawah adalah radang usus buntu, penyakit Chron, radang permukaan usus (enteritis), radang usus yang disertai luka (kolitis ulseratif), pecahnya usus (ruptur kolon), serta sumbatan usus (akibat tumor usus, gumpalan feses). Gangguan organ reproduksi pada wanita yang menimbulkan nyeri perut kiri bawah antara lain nyeri haid, adanya jaringan rahim di luar rahim (endometriosis), kista indung telur, serta peradangan atau infeksi pada indung telur, rahim, atau mulut rahim. Pada pria, penyebab gangguan organ reproduksi antara lain hernia atau peradangan saluran sperma. Batu atau peradangan pada saluran kemih bagian kiri juga merupakan kemungkinan penyebab nyeri perut kiri bawah. Penyebab yang tidak serius juga sering terjadi, seperti nyeri otot perut atau timbunan gas pada usus.

PENGOBATAN

Pengobatan bervariasi tergantung pada penyebab dasar. Pada peradangan daerah usus, diperlukan antibiotik dan diet lunak atau cair. Sumbatan usus akibat tumor, pecahnya usus, kista, hernia, radang usus buntuk, dan batu saluran kemih mungkin memerlukan tindakan bedah. Nyeri karena haid, endometriosis, serta gangguan otot dapat dikurangi dengan pemberian obat anti-nyeri. Peradangan panggul memerlukan antibiotik.

GE

GASTROENTERITIS ADALAH

Penyakit ini sering disebut diare atau mencret. Padahal mencret hanyalah salah satu dari kumpulan gejalagastroenteritis. Jika dilihat dari golongan umur dan frekuensinya, belum tentu juga semua mencret bisa disebut diare. Yang dimaksud diare menurut organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) adalah kejadian buang air besar dengan bentuk tinja yang lebih cair dari biasanya, dengan frekuensi lebih sering dari biasanya, selama satu hari atau lebih. Jadi, konsistensi tinja atau kotoran yang ditekankan. Penyebutan diare pada bayi menyusui akan berbeda dengan dewasa. Bayi yang memperoleh air susu ibu (ASI) eksklusif biasanya mengeluarkan tinja yang agak cair, di mana frekuensinya bisa 5 kali sehari. Hal ini juga belum bisa disebut diare.
Gastroenteritis sering disingkat dengan GE. Kasus GE masih menjadi perhatian karena sering menyebabkan kematian terutama pada bayi dan anak-anak, golongan lanjut usia, serta orang yang memiliki masalah dengan daya tahan tubuh rendah. Lebih banyak kematian terjadi di negara yang sedang berkembang dengan tingkat kebersihan yang rendah. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI), WHO menyebutkan angka kematian karena diare di Indonesia sudah menurun, tapi angka penderitanya tetap tinggi, terutama di negara berkembang. Kasus rawat inap karena diare pun masih menempati urutan atas di setiap rumah sakit di Indonesia pada tahun 2008.

GEJALA

Penyakit yang melibatkan saluran cerna ini umumnya memunculkan gejala mual, muntah, buang air besar yang encer atau mencret beberapa kali/diare, kadang demam ringan atau meriang, dan yang lebih jarang yaitu kejang perut. Dari kondisi kekurangan cairan atau dehidrasinya, penderita bisa disebut termasuk diare tanpa dehidrasi, diare dehidrasi ringan/sedang, atau diare dehidrasi berat.
  • Pada kasus tanpa dehidrasi, setidaknya memenuhi 2 atau lebih tanda berikut, yaitu keadaan umum penderita baik, mata tidak tampak cekung, minum seperti biasa, dan kulit perut saat dicubit atau dijepit (disebut pemeriksaan turgor) kembali dengan cepat.
  • Untuk dehidrasi ringan/sedang, penderita biasanya gelisah atau rewel, mata tampak cekung, haus dan ingin minum banyak, serta turgor kembali lambat.
  • Jika sudah dehidrasi berat, penderita tampak sangat lesu hingga tidak sadar, mata tampak cekung, malas atau tidak bisa minum, dan turgor kembali sangat lambat lebih dari 2 detik.

Perlu juga diketahui ada atau tidaknya darah di muntahan serta tinja. Ini menentukan tindakan perawatan dan pengobatan selanjutnya. Sebaiknya, penderita mengkonsultasikan dengan dokter bila ada keluhan mual, muntah, diare yang masih berlangsung hingga lebih dari dua hari. Waspadai juga jika keluhan bertambah parah menjadi muntah dan diare yang disertai darah, demam tinggi, dan tanda-tanda kekurangan cairan. Tanda-tanda dehidrasi lain yang mungkin ditemukan yaitu rasa pusing yang berat, kulit bibir jadi kering, urin atau kencing tampak kuning pekat, kencing atau berkemih yang jarang, bahkan hingga tidak kencing dalam waktu yang lama. Pada bayi bisa terlihat ubun-ubun cekung.

PENYEBAB

Gastroenteritis bisa disebabkan karena infeksi dan non-infeksi. Penyebab GE terbesar adalah karena infeksi. Gastroenteritis infeksi bisa disebabkan oleh organisme virus, bakteri, dan atau parasit. Tersering disebabkan oleh virus, yaitu rotavirus, yang terkait dengan diare akut.
Sedangkan penyebab non-infeksi bisa terjadi karena alergi makanan, minuman, obat-obatan, dan keracunan, misalnya pada bayi menyusui karena ibunya mengalami perubahan pola diet. Efek samping makanan, minuman, dan obat yang dikonsumsi juta turut punya andil sebagai penyebab keluhan di perut ini.
Menurut perjalanan penyakitnya, gastroenteritis dibedakan menjadi gastroenteritis akut, akut berdarah, dan persisten. Viruslah yang paling sering dikaitkan dengan kasus gastroenteritis akut. GE jenis ini disebut akut karena sifat pemunculan gejalanya yang tiba-tiba, tapi cepat membaik dalam hitungan hari hingga 2 mingguan sesuai perjalanan alamiah penyakitnya. Gastroenteritis akut berdarah sering disebut disentri. Ada keterlibatan organisme yang merusak usus dan ditemukannya darah dalam tinja. Jika gastroenteritis berlanjut hingga lebih dari 14 hari, maka disebut persisten. Seringpula terjadi pada penderita dengan status gizi buruk, mengalami masalah dengan sistem kekebalan tubuh, dan sedang dalam keadaan infeksi.
Virus, bakteri, atau parasit penyebab bisa masuk ke saluran cerna melalui mulut atau melalui perantara makanan dan minuman tercemar yang dikonsumsi, sehingga penyakit ini disebut food borne disease. Bahkan rotavirus diduga dapat menular lewat udara. Setelah masuk ke saluran cerna melewati hadangan asam lambung, organisme menuju ke usus. Di usus ini organisme penyebab diare berkembang biak. Mereka mampu mengubah struktur dinding usus, menimbulkan peradangan, mengeluarkan toksin, dan mengganggu kerja sel usus dalam proses pencernaan dan penyerapan makanan/minuman. Hal ini menyebabkan gerak khas kontraksi atau peristalsis dinding usus meningkat. Gelombang kembung kempis ini memaksa isi usus yang belum tercerna dan terserap dengan baik terus maju dan meluncur makin ke bawah menuju pembuangannya, sehingga terjadilah mencret.

PENGOBATAN

Penanggulangan utama diare disusun oleh Depkes RI dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Lima Langkah Tuntaskan Diare (Lintas Diare). Langkah-langkah tersebut yaitu (1) oralit formula baru, (2) pemberian zinc selama 10 hari, (3) melanjutkan pemberian ASI dan makanan,  (4) pemberian antibiotika tertentu sesuai indikasi, dan (5) konseling/nasihati ibu. Pertolongan pertama yang bisa dilakukan jika terserang gastroenteritis antara lain hindari kontak dengan terduga penyebab, pencegahan kekurangan cairan atau jangan sampai dehidrasi, dan istirahat yang cukup.
Cairan tubuh yang hilang karena muntah, buang air, dan demam, harus segera diganti untuk mencegah dehidrasi. Juga selalu ingat untuk selalu mencuci tangan. Jika tersedia oralit, berikan segera. Oralit adalah campuran garam elektrolit. Oralit berosmolaritas rendah seperti yang telah beredar di pasaran saat ini sangat direkomendasikan karena dapat mengurangi sensasi mual dan muntah. Campurkan satu bungkus oralit ke dalam satu gelas air minum, lalu diaduk rata, dan pastikan penderita meminumnya.
Jika belum tersedia oralit, bisa berikan cairan rumah tangga (CRT) seperti air tajin, kuah sayur, atau cukup air matang. Sesuaikan dosis oralit dengan status dehidrasi dan umur penderita. Penderita sebaiknya segera dibawa ke sarana kesehatan jika tidak mampu minum yang cukup untuk dipertimbangkan pemberian cairan melalui pembuluh darah atau infus.
  • Untuk diare tanpa dehidrasi bisa diberikan oralit sebanyak ¼ – ½ gelas (umur < 1 tahun),  ½ – 1 gelas (1 – 4 tahun), dan 1 – 1 ½ gelas (> 5 tahun) tiap kali mencret.
  • Pada diare derajat ringan/sedang, oralit 3 jam pertama diberikan sebanyak 75 ml/kg berat badan. Pemberian selanjutnya sesuai dengan diare tanpa dehidrasi.
  • Penderita diare dengan dehidrasi berat sebaiknya dibawa ke sarana kesehatan untuk mendapat infus.

Pemberian suplemen mikronutrien zinc atau seng segera setelah mengalami diare dianjurkan karena terbukti bisa mengurangi lama dan keparahan diare, mengurangi seringnya mencret, mengurangi banyaknya kotoran, dan mengurangi risiko kekambuhan 3 bulan kemudian. Dianjurkan untuk tetap minum zinc hingga 10 hari setelah diare berhenti.
Jika masih bisa makan dan minum, berikan makanan dan minuman dalam porsi yang lebih sedikit, tapi lebih sering. Prinsipnya adalah memberikan suatu yang mudah dicerna seperti bubur dan berkuah, rendah serat, sehingga tidak membuat saluran cerna bekerja terlalu keras memprosesnya, dan tidak mengiritasi saluran cerna. Untuk bayi dan anak, kalau tidak bermasalah dengan diet ibunya, boleh melanjutkan air susu ibu seperti biasa. Hal yang sama berlaku untuk bayi dan anak yang mendapat susu formula, bahkan pemberiannya harus lebih sering dari biasanya untuk mencegah penurunan berat badan. Setelah penyembuhan pun makanan ekstra harus tetap diberikan untuk menunjang perbaikan berat badan.
Konsumsi obat-obatan seperti antimual, antimuntah, antidiare, dan terutama antibiotika harus benar-benar selektif menurut pertimbangan dokter, apalagi jika penderita adalah bayi dan anak-anak. Perlu diingat bahwa muntah dan diare dalam batas tertentu bisa dianggap sebagai respon alami tubuh untuk mengeluarkan benda asing, racun/toksin, dan organisme penyebab. Kembali ke pertimbangan rasionalitas, efektivitas, dan efek samping obat.
Pemerintah juga menekankan pemberian konseling dan nasihat jika terjadi hal-hal yang lebih berat. Kalau diare menjadi lebih sering, muntah berulang yang menghambat rehidrasi oral, sangat haus, sedikit makan dan minum, disertai demam, tinja berdarah, dan tidak ada perbaikan dalam 3 hari, periksakan kembali penderita ke sarana kesehatan.
Pencegahan lebih baik dibanding pengobatan. Kebiasaan menjaga dan memperbaiki kondisi kesehatan atau higiene dan sanitasi tetap menjadi upaya ampuh yang sederhana untuk mengurangi risiko terkena penyakit, misalnya mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum kontak dengan mulut, sebelum menyiapkan makanan/minuman, sebelum memegang bayi, dan sebelum menyuapi anak. Jangan lupa cuci tangan juga setelah buang air besar dan kecil. Gunakan selalu jamban dengan benar dan pengelolaan buang sampah yang baik.

DEMAM

DEMAM ADALAH

Demam atau pyrexia merupakan salah satu gejala umum yang paling sering dialami seseorang ketika sakit, tubuh dapat dikatakan demam bila suhu tubuh melebihi batas normal yaitu 36,5 hingga 37,5 º C. Terdapat beberapa istilah yang berhubungan dengan suhu tubuh, diantaranya adalah hipotermia (suhu tubuh < 35º C), suhu normal (36,5 – 37,5 º C), demam (>37,5º C), hyperpyrexia (>40º C). Beberapa lokasi tubuh yang dapat dijadikan lokasi acuan untuk mengukur suhu diantaranya adalah mulut, ketiak (aksila), anus (rektal),  dan telinga (otic). Pengukuran suhu pada anus akan menunjukkan suhu normal sedikit lebih tinggi (37,5 – 38,3º C).

PENYAKIT TERKAIT

Demam sebagai gejala dari sebuah penyakit dapat membantu tenaga kesehatan dalam membantu menentukan beberapa penyebab dari demam atau penyakit yang sedang diderita oleh seseorang dengan mengetahui jenis dari demam yang dialami. Beberapa jenis demam adalah sebagai berikut:
  1. Demam kontinyu, demam ini berlangsung terus menerus dan tidak berfluktuasi lebih dari 1º C selama 24 jam. Tipe demam kontinyu dapat disebabkan oleh infeksi pneumonia, infeksi tifus atau tifoid (demam lebih tinggi pada malam hari), dan infeksi saluran kencing.
  2. Demam remiten, karakteristik demam remiten ditandai dengan demam naik turun lebih dari 1º C tetapi tidak mencapai suhu normal. Salah satu penyebab demam remiten adalah infeksi endokarditis, dan demam jantung rematik.
  3. Demam intermiten, karakteristik demam ini ditandai dengan naik turunnya suhu tubuh dari demam menjadi suhu normal kemudian menjadi demam kembali dalam periode waktu tertentu. Penyebab demam intermiten adalah malariaPlasmodium falciparum atau Plasmodium knowlesi dapat menyebabkan demam dengan periode 24 jam, Plasmodium vivax atau Plasmodium ovale dapat menyebabkan demam dengan periode 48 jam sekali, Plasmodium malariae dapat menyebabkan demam dengan periode 72 jam sekali.
  4. Demam bifasiq, demam ini dikarakteristikan dengan demam yang tinggi kemudian hilang dan akan kembali meningkat. Penyebab demam bifasiq antara lain virus demam berdarah, dan leptospirosis.

Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demam adalah :
  1. Penyakit infeksi baik disebabkan oleh virus, bakteri, maupun infeksi parasit;
  2. Beberapa peradangan kulit seperti bisul atau abses;
  3. Penyakit auto imun atau imunologis seperti lupus, sarkoidosis, Kawasaki, dan penyakit Wegener;
  4. Penyakit kerusakan jaringan seperti hemolisis, operasi, infark, dan perdarahan otak;
  5. Reaksi alergi seperti alergi makanan, alergi debu, maupun alergi saat transfusi;
  6. Penyakit keganasan sel seperti kanker jinak maupun kanker ganas;
  7. Penyakit metabolik seperti asam urat maupun radang sendi.

PENGOBATAN

Pengobatan konservatif dari demam yang dapat dilakukan adalah dengan mengkompres tubuh untuk mengurangi suhu tubuh dengan kain atau washlap lembab, proses mengkompres dapat dilakukan dengan menggunakan air dingin maupun air hangat.
Penatalaksanaan lain dari demam adalah dengan medikasi menggunakan obat anti demam sepertiparasetamolibuprofen, maupun aspirin/aspilet.

TIFOID

DEMAM TIFOID ADALAH

Tifoid atau tipus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Penyakit ini banyak ditemui di Indonesia. Penyakit tifoid memang erat kaitannya dengan higienitas atau kebersihan. Bakteri penyebab tifoid senang hidup di makanan kotor ataupun tanah sehingga bila seseorang mengonsumsi makanan kotor dan saat daya tahan tubuhnya turun maka ia dapat terserang tifoid.

PENYEBAB

Penyebab penyakit ini ialah infeksi bakteri Salmonella typhi. Bakteri menular melalui makanan yang terinfeksi atau mengandung kuman bakteri. Saat seseorang mengonsumsi maknana tersebut dan daya tahan tubuhnya rendah, bakteri akan menyerang usus orang tersebut. Selanjutnya, bakteri masuk ke dalam peredaran darah dan terjadinya penyakit tifoid.

GEJALA

Gejala tifoid tidak khas. Sering kali gejala awal tifoid tampak seperti gejala flu atau radang tenggorokan. Pada tahap lebih lanjut gejala tifoid juga sering kali seperti demam berdarah. Gejala tifoid antara lain:
  1. Demam suhu di atas 38 derajat Celsius
    Demam pada tifoid cukup khas. Pada minggu pertama setelah seseorang terinfeksi bakteri penyebab tifoid, orang tersebut akan mengalami demam ringan. Demam semakin hari semakin meningkat. Demam tinggi akhirnya terjadi pada minggu ke dua. Demam biasanya muncul pada waktu sore hari dimana pasien merasa menggigil. Kaki dan tangan teraba dingin sedangkan badan teraba panas.
  2. Bradikardia relatif yaitu jumlah nadi per menit yang tidak sesuai dengan kondisi penderita. Normalnya, bila suhu badan meningkat maka kecepatan nadi akan meningkat. Namun pada tifoid, kecepatan nadi tidak meningkat.
  3. Lidah tifoid: lidah pada penderita tifoid cukup khas, yakni keputihan pada bagian tengah lidah dan merah di bagian pinggir.
  4. Keluhan pencernaan, seperti mual, sukar buang air besar, atau sebaliknya, buang air besar encer.
  5. Keluhan saluran pernapasan, seperti batuk, pilek.
  6. Gejala lainnya, seperti mata merahsakit kepalasesak napas, pegal-pegal, nyeri sendi, dan sebagainya.

PENGOBATAN

Karena penyebab demam tifoid adalah bakteri, obat demam tifoid ialah antibiotik. Antibiotik yang digunakan antara lain ampicilin, kloramfenikol, ciprofloksasin, kotrimoksasol, ceftriakson, dan sebagainya. Selain itu, penderita juga diberikan obat untuk mengurangi gejala seperti obat penurun panas, obat mual, obat batuk. Penderita juga dianjurkan untuk konsumsi makanan lembut.

DEMAM BERDARAH

DEFINISI

Infeksi virus Dengue sering kali dikenal oleh masyarakat sebagai penyakit demam berdarah. Penyakit ini paling popular saat musim hujan mulai datang atau sesaat setelah musim hujan. Virus penyebab penyakit ini ditularkan melalui nyamuk. Perilaku membiarkan air yang tergenang disebut-sebut sebagai penyebab wabah Dengue.
Sejumlah laporan memperlihatkan bahwa jumlah kasus infeksi Dengue di Indonesia masih tinggi, yakni rata-rata 10-25 kasus per 100.000 penduduk. Namun, angka kematian akibat infeksi Dengue telah turun hingga hanya kurang dari 2% dari keseluruhan kasus. Kelompok umur yang paling rentan terkena Dengue adalah kelompok umur anak-anak usia 4-10 tahun.
Faktanya, tidak semua infeksi virus Dengue selalu menjadi penyakit demam berdarah. Penyakit demam berdarah hanya salah satu manifestasi  perwujudan dari infeksi virus ini. Infeksi virus Dengue dapat bermanifestasi ke dalam 4 spektrum: 1) infeksi tanpa gejala klinis (silent dengue infection, 2) demam dengue (DD), 3) demam berdarah dengue (DBD), 4) demam berdarah dengue disertai syok (dengue shock syndrome). Silent dengue infection adalah manifestasi yang paling ringan sedangkandengue shock syndrome adalah yang paling berat. Spektrum inveksi dengue tersebut bisa berubah ke spektrum yang lebih berat, misal silent dengue infection dapat berkembang menjadi DD, DBD, dandengue shock syndrome.
Selain keempat spekrum di atas, terdapat komplikasi inveksi virus Dengue yang disebut sebagai DBDensefalopati, yakni infeksi virus telah mencapai otak. Komplikasi ini biasa ditemui pada penderita anak-anak. Pada kondisi ini, penanganan harus sangat hati-hati, termasuk dalam perhitungan pemberian cairan infus. Pasien harus ditangani oleh dokter spesialis anak.

GEJALA

Infeksi virus Dengue menyerang sistem peredaran darah, yakni menyebabkan trombosit (keping darah) dan sel darah putih turun dan komponen cairan dalam darah keluar ke jaringan sekitar. Seorang penderita infeksi virus Dengue rentan mengalami perdarahan.
Gejala infeksi virus Dengue adalah sebagai berikut:
  • Gejala umum:
    • Demam
    • Sakit kepala
    • Nyeri otot-otot tubuh dan sendi
    • Mual, muntah
    • Hilang nafsu makan
    • Nyeri ulu hati
  • Manifestasi perdarahan:
    • Gusi berdarah
    • Mimisan
    • Bintik merah pada kulit (petekie)
    • Muntah darah
    • Menstruasi yang berlebihan pada wanita
  • Manifestasi keluarnya komponen cairan darah ke jaringan:
    • Lemas, tangan-kaki dingin
    • Bibir berwarna kebiruan
    • Sesak nafas akibat adanya cairan pada selaput paru-paru
  • Gejala akibat komplikasi:
    • Ensefalopati DBD: penurunan kesadaran, sakit kepala hebat, kejang
    • Gagal hati: mual, kulit tampak kuning, perut membuncit
    • Koagulasi intravaskular diseminasi (kelaianan pembekuan darah): terjadi perdarahan yang sangat banyak

Demam pada infeksi virus Dengue memiliki pola yang khas. Demam tinggi pada hari ke-1 hingga hari ke-3, kemudian turun pada hari ke-4 dan ke-5, namun kembali naik pada hari ke-6 hingga infeksi virus selesai. Namun saat panas mulai turun sebenarnya adalah saat kritis bagi penderita. Pada waktu itulah biasanya terjadi komplikasi perdarahan ataupun pengeluaran komponen cairan darah ke jaringan.
Pada tiga hari pertama, bila penderita diberi obat penurun panas maka demam akan turun untuk sesaat, tetapi kemudian akan naik kembali. Oleh karena itu, bila terdapat demam 3 hari tanpa perbaikan meski sudah diberi obat, sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah.
Karakteristik sakit kepala juga cukup khas yaitu sakit di daerah belakang bola mata. Beberapa penderita mengeluhkan sensasi pegal pada bola mata. Gejala mual, muntah, dan nyeri ulu hati pada infeksi virus Dengue biasanya ringan. Ini salah satu yang membedakan infeksi virus Dengue dengan demam tifus di mana pada tifus keluhan mual, muntah, dan nyeri ulu hati lebih berat.
Pemeriksaan laboratorium berperan penting dalam diagnosis infeksi virus Dengue. Pemeriksaan laboratorium yang menunjuang diagnosis ialah 1) penurunan nilai trombosit; 2) penurunan  nilai sel darah putih; dan 3) peningkatan nilai hematokrit (konsentrasi sel darah).
Oganisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO) memberikan pedoman untuk menegakkan infeksi Dengue spektrum demam berdarah dengue. Dikatakan DBD bila memenuhi keempat kriteria berikut:
  • Gejala demam yang berlangsung 2-7 hari;
  • Terdapat sedikitnya satu manifestasi perdarahan (petekie, gusi berdarah, mimisan, dan sebagainya);
  • Penurunan trombosit di bawah batas normal;
  • Terjadi peningkatan konsentrasi sel darah atau adanya bukti keluarnya komponen cairan darah ke jaringan, seperti adanya cairan pada selaput paru-paru, penurunan kadar protein darah, dan sebagainya.

PENYEBAB

Infeksi virus dengue merupakan suatu penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus Dengue. Seperti sifat virus lainnya, Dengue membutuhkan sel inang (induk) untuk dapat hidup. Di lingkungan luar, virus ini akan segera mati.
Virus Dengue termasuk ke dalam genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Terdapat 4 tipe virus ini, yakni:DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Keempat serotipe tersebut dapat ditemui di daerah hujan tropis seperti Indonesia.
Di antara keempat serotipe tersebut, serotipe DEN-3 merupakan serotipe dominan dan penyebab demam berdarah dengan derajat yang paling berat, diikuti selanjutnya oleh DEN-2. Itulah yeng menyebabkan terdapat pasien demam berdarah dengan gejala yang sangat cepat dan berat, tetapi terdapat juga pasien demam berdarah yang tampak segar bugar. Malah beberapa orang tidak sadar bahwa dirinya pernah terinfeksi virus Dengue.
Virus ini ditularkan ke manusia melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Virus masuk ke dalam aliran darah melalui luka akibat gigitan nyamuk. Infeksi virus Dengue tidak dapat menular antar manusia, melalui udara bebas, ataupun melalui pertukaran cairan.
Di dalam tubuh, virus berinteraksi dengan trombosit sehingga jumlah trombosit tubuh menurun. Virus juga menyebabkan permeabilitas (kemampuan dinding pembuluh darah ditembus cairan) pembuluh darah meningkat sehingga sebagian komponen cairan darah dan sel darah putih ke luar ke jaringan tubuh. Peristiwa tersebut yang menyebabkan pada pemeriksaan darah ditemukan trombositopenia(penurunan jumlah trombosit), leukopenia (penurunan jumlah sel darah putih), dan peningkatanhemotokrit (peningkatan konsentrasi sel darah akibat berkurangnya cairan darah ke jaringan).
Akibat trombositopenia, penderita infeksi virus Dengue mengalami gangguan pembekuan darah yang sering dapat kita jumpai sebagai bintik-bintik merah di kulit yang disebut petekie. Penderita juga rentan mengalami perdarahan seperti gusi berdarah, mimisan, dan perdarahan saluran cerna.

PENGOBATAN

Sebagian besar penyakit virus bersifat self-limiting, artinya virus akan mati sendiri. Seperti penyakit yang disebabkan oleh virus, infeksi virus Dengue sebenarnya akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1-2 minggu. Namun yang dikhawatirkan dari penyakit virus ialah gejala dan komplikasi yang terjadi. Pengobatan untuk infeksi virus Dengue, termasuk spektrumnya, adalah mengobati gejala yang timbul dan mencegah terjadinya komplikasi.
Pengobatan infeksi virus Dengue meliputi:
  • Medikamentosa (obat-obatan)
    • Antipiretik (obat antidemam) diberikan untuk membuat pasien nyaman dan suhu badan turun. Obat yang biasa digunakan ialah paracetamol. Selain untuk demam, paracetamol juga berkhasiat untuk mengurangi keluhan nyeri otot, nyeri sendi, dan sakit kepala.
    • Kortikosteroid diberikan pada komplikasi DBD ensefalopati. Bila terdapat riwayat perdarahan pada saluran cerna, kortikosteroid tidak diberikan.
    • Antibiotika diberikan untuk DBD ensefalopati DBD dan hanya bila terdapat komplikasi infeksi. Tubuh pasien yang terkena DBD umumnya lebih rentan terkena infeksi bakteri seperti faringitis(radang tenggorokan). Bila hal ini terjadi, ada tempatnya antibiotika diberikan. Untuk infeksi virus Dengue-nya sendiri, antibiotika tidak diindikasikan.
    • Hindari pemberian obat-obatan lainnya. Obat mual seperti antasida hanya diberikan bila pasien mual dan muntah cukup hebat.
  • Pengobatan suportif (pendukung)
    • Kompres membantu untuk menurunkan demam. Pada anak, kompres dapat diberikan pada kening maupun di seluruh tubuh. Kompres diberikan dengan menggunakan suhhu air biasa/air keran, yakni bukan air hangat ataupun air dingin.
    • Penderita inveksi virus Dengue dimotivasi untuk banyak minum. Tujuannya ialah mengganti kekurangan cairan akibat perpindahan cairan dari dalam pembuluh darah ke jaringan tubuh. Pada prinsipnya cairan apapun boleh, tidak harus jus buah, oralit, dan sebagainya.
    • Cairan intravena (invus) diberikan kepada penderita yang mengalami muntah hebat, tidak mau minum, dehidrasi, atau syok. Jumlah cairan intravena yang diberikan disesuaikan dengan berat badan penderita dan derajat dehidrasi yang dialami.
    • Transfusi darah diberikan bila penderita mengalami komplikasi perdarahan serius atau trombosit sangat rendah.
 

DIARE

DIARE ADALAH

Diare adalah penyakit yang sangat umum dijumpai. Penyakit ini dapat menyerang baik anak-anak maupun dewasa. Angka kejadian tertinggi ditemukan pada anak usia di bawah 2 tahun, di mana pada kelompok usia tersebut virus adalah penyebab tersering diare.
Diare didefinisikan sebagai suatu keadaan bertambahnya frekuensi dan keenceran buang air besar. Frekuensi buang air besar yang dianggap normal adalah 1-3 kali per hari dan banyaknya 200-250 gram sehari. Jika melebihi jumlah tersebut, maka seseorang sudah dapat dikatakan mengalami diare.
Terdapat beberapa istilah pda penyakit diare, yakni:
  • Diare akut bila berlangsung kurang dari 1 minggu;
  • Diare persisten adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dan disebabkan oleh infeksi, misalnya diare akibat virus karena pelaksanaan yang kurang baik sehingga berlanjut hingga lebih dari 14 hari, disentri yang tidak mendapat obat sehingga berlangsung lebih dari 14 hari, atau diare akibat bakteri yang telah resisten terhadap sejumlah antibiotika sehingga berlangsung lebih dari 14 hari;
  • Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dan bukan disebabkan oleh virus, misal akibat gangguan fungsi usus dalam mencerna makanan, adanya suatu zat makanan yang tidak dapat diserap tubuh, dan sebagainya;
  • Disentri adalah diare yang disertai lendir dan darah. Disentri disebabkan oleh bakteri Shigella atau parasit Entamoeba histolotica;
  • Kolera adalah diare cair yang hampir tidak dapat ditemukan ampas tinja sama sekali (watery diarrhea). Kolera sering kali menimbulkan wabah dan sangat cepat menimbulkan dehidrasi sehingga menyebabkan penderitanya meninggal. Kolera disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae.


GEJALA

Pada prinsipnya diare terjadi akibat gangguan sistem percernaan. Gangguan tersebut dapat berupa gangguan penyerapan, gangguan pengeluaran enzim usus, ataupun gangguan gerakan usus yang disebabkan oleh bakteri ataupun nonbakteri sehingga mengakibatkan perubahan jumlah ataupun konsentrasi sisa makanan yang akan dibuang. Dengan demikian, gejala yang akan ditemui sebagian besar adalah gejala dari sistem pencernaan.
Gejala diare meliputi:
  1. Peningkatan frekuensi buang air besar;
  2. Peningkatan jumlah tinja per buang air besar;
  3. Pengenceran konsistensi tinja;
  4. Rasa melilit di perut;
  5. Kembung, sering buang gas dan bersendawa;
  6. Mual, muntah;
  7. Pada bayi dapat dijumpai kemerahan pada kulit sekitar bokong;
  8. Bila penyebabnya adalah infeksi dapat disertai demam;
  9. Bila terjadi dehidrasi penderita akan lemas, ujung jari teraba dingin, hingga penurunan kesadaran.

Pada penderita diare harus ditelusuri hal-hal berikut:
  • Karakteristik diare: frekuensi buang air besar dalam sehari, lama diare telah berlangsung, warna tinja, konsentrasi tinja, bau busuk, lendir dan darah pada tinja;
  • Jumlah cairan yang masuk selama diare, apakah selama diare penderita mau minum;
  • Adanya gejala yang dapat menunjukkan adanya dehidrasi: mual, anak rewel, lemah, penurunan kesadaran, kejang;
  • Jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi selama diare, adakah riwayat konsumsi makanan yang tidak biasa sebelum diare muncul.

Dehidrasi adalah komplikasi tersering dan umumnya ditemui pada pasien anak-anak. Dehidrasi tidak boleh dianggap remeh karena penyebab kematian utama pada diare diakibatkan oleh dehidrasi. Dehidrasi terjadi akibat jumlah cairan yang dikeluarkan melalui diare lebih besar daripada cairan yang masuk melalui minum. Dehidrasi paling banyak ditemui pada penderita diare kolera, penderita yang tidak mau minum, dan penderita yang mengalami penurunan kesadaran.
Dehidrasi dibagi ke dalam 2 derajat:
  • Dehidrasi ringan-sedang, yakni bila terjadi kehilangan cairan sekitar 5-10% dari berat badan. Dehidrasi ringan-sedang ditegakkan bila ditemui tanda:
    • Keadaan umum gelisah atau cengeng;
    • Ubun-ubun sedikit cekung, mata tampak cekung, air mata saat menangis tampak keluar lebih sedikit dari biasanya, bibir tampak sedikit kering;
    • Ujung jari kaki tangan masih teraba hangat;
    • Penderita biasanya mengeluhkan haus dan masih dapat minum banyak.
  • Dehidrasi berat, yakni bila terjadi kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan. Dehidrasi berat ditegakkan bila ditemui tanda:
    • Keadaan umum lemah, letargi, atau koma;
    • Ubun-ubun sangat cekung, mata tampak sangat cekung, saat menangis tidak keluar air mata, bibir tampak kering;
    • Ujung jari kaki tangan teraba dingin;
    • Penderita biasanya malah tidak mau minum, buang air kecil jarang, dan urin tampak pekat.

Bila tidak didapatkan tanda di atas, yakni penderita masih tampak segar, sadar, mata tidak cekukng, bibir tampak basah, ujung jari kaki tangan hangat, maka penderita tidak mengalami dehidrasi.

PENYEBAB

Penyebab diare tidak harus infeksi meskipun data menunjukkan bahwa infeksi adalah penyebab tersering diare. Penyebab diare secara lengkapnya adalah sebagai berikut:
  1. Infeksi: infeksi usus (termasuk kasus keracunan makanan), infeksi ekstra usus dengan penyebaran bakteri ke usus
  2. Obat-obatan: penggunaan antibiotik yang salah sehingga menganggu bakteri normal usus.
  3. Alergi makanan: alergi protein kedelai, cow’s milk protein allergy (CMPA).
  4. Kelainan penyerapan makanan, misal pada kondisi kekurangan enzim pencerna makanan.
  5. Kekurangan vitamin seperti niasin (vitamin B3).
  6. Tertelan logam berat, seperti Co, Zn, cat.


PENGOBATAN

Pengobatan diare yang dianjurkan oleh badan kesehatan dunia / World Health Organization (WHO)adalah sebagai berikut:
  1. Pemberian cairan
Pemberian cairan amat penting mengingat komplikasi tersering yang juga dapat menyebabkan kematian penderita diare adalah dehidrasi. Pemberian cairan bertujuan untuk mengganti cairan yang keluar saat diare. Karena jika tidak diganti, cairan yang defisit pada tubuh dapat menyebabkan perubahan kadar keasaman darah, mengurangi volume darah yang menghantarkan oksigen, menganggu metabolisme sel yang kesemuanya dapat berakibat fatal.
Anak yang masih sadar atau pasien dewasa harus dimotivasi untuk minum sebanyak yang mereka mampu. Pada prinsipnya semua cairan boleh diminumkan, termasuk ASI bagi penderita bayi. Namun bila dicurigai adanya gangguan penyerapan zat tertentu, susu yang mengandung laktosa sebainya dihindari terlebih dahulu dan diganti susu bebas laktosa atau susu kedelai.
Oralit adalah cairan yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi selama diare. Oralit memiliki tingkat kelarutan yang baik sehingga mudah diserap di usus. Jika tidak tersedia oralit, dapat dibuat cairan gula-garam dengan osmolaritas yang mendekati oralit. Caranya ialah campurkan ke dalam satu gelas (200 cc) air matang sebanyak satu sendok teh gula dan satu sendok teh garam.
Pada penderita dengan dehidrasi berat, pada penderita bayi-anak yang sulit minum, atau pada penderita yang selalu muntah setelah makan-minum maka penggantian cairan harus diupayakan melaui cairan intravena (infus).
  1. Medikamentosa (obat-obatan)
Beberapa studi sebenarnya menunjukkan bahwa obat-obatan diare tidak mendatangkan keuntungan bagi penderita dan malah dapat memperburuk keadaan. Obat antidiare tidak mengatasi penyebab diare sehingga pemakaian obat-obatan antidiare sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
Antibiotik hanya diberikan bila ada indikasi, misal pada disentri atau kolera. Pemberian antibiotik yang tidak rasional dapat menganggu kesimbangan bakteri normal pada usus sehingga dapat menyebabkan diare persisten. Antibiotik diberikan sesuai dengan organisme penyebab diare. Daire akibat virus tidak membutuhkan antibiotik.
  1. Seng
Seng atau zink atau zat besi merupakan salah satu zat mikronutrisi. Zat ini telah terbukti dapat menurunkan frekuensi buang air besar, menurunkan volume tinja, dan menurunkan angka kejadian diare ulangan. Seng atau zink diberikan selama 10-14 hari meskipun penderita sudah tidak mengalami diare. Dosis seng atau zink ialah 20 mg per hari. Pada anak usia di bawah 6 bulan dosisnya ialah 10 mg per hari.
  1. Pemberian nutrisi yang baik
Penderita diare harus tetap makan seperti biasa. Pada bayi yang masih menyusui, ASI harus tetap diberikan. Bila mual, makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering. Serat sedikit dikurangi agar konsistensi tinja tidak lembek akibat kebanyakan serat.
  1. Edukasi
Edukasi mengenai diare, kebersihan diri dan lingkungan, serta informasi mengenai kapan harus segera membawa penderita ke rumah sakit adalah hal yang dimasukan WHO dalam pilar pengobatan diare yang holistik. Edukasi penting terutama bagi orang tua penderita diare anak-anak. Orang tua disarankan membawa anaknya ke rumah sakit bila terdapat demam, diare berdarah, makan atau minum sedikit, anak tampak haus, atau diare tidak membaik dalam waktu 3 hari.