Jumat, 11 September 2015

pengobatan DM tipe II

Meski diabetes tidak bisa disembuhkan, pendeteksian sejak dini memungkinkan kadar gula darah penderita diabetes bisa dikendalikan. Ini dilakukan agar kadar gula darah tetap dalam batas normal dan gejala-gejalanya dapat dikendalikan untuk mencegah komplikasi yang mungkin akan terjadi.
Dokter akan menjelaskan penyakit ini secara detail, membantu Anda untuk memahami proses pengobatan, serta memantau penyakit-penyakit lain yang dapat terjadi pada Anda. Tujuan pengobatan diabetes adalah untuk memertahankan keseimbangan kadar gula darah dan meminimalisasi risiko komplikasi.
Penderita diabetes tipe 2 dianjurkan untuk selalu menjaga kesehatan dengan seksama. Tetapi Anda tidak perlu merasa kecil hati karena dokter bisa membantu Anda dalam proses pengobatan yang dapat Anda jalani. Jangan ragu untuk minta bantuan pada keluarga atau teman.

Memulai Gaya Hidup yang Sehat

Penanganan awal yang umumnya diterapkan kepada penderita diabetes tipe 2 adalah dengan mengubah gaya hidup. Misalnya pola makan yang sehat, teratur berolahraga, dan menurunkan berat badan bagi yang mengalami kegemukan atau obesitas (indeks berat badan 30 atau lebih).
Langkah awal ini akan sangat efektif untuk penderita diabetes tipe 2 pada tahap dini serta dapat membantu proses pengobatan jika dilakukan dengan disiplin dan cermat.

Obat-obatan untuk Menurunkan Kadar Gula darah

Diabetes tipe 2 adalah penyakit progresif yang umumnya bisa bertambah parah. Menjaga pola makan dan rutin berolahraga saja mungkin belum cukup untuk mengendalikan kadar gula darah penderita sepenuhnya.
Penderita jenis diabetes ini lama-kelamaan akan membutuhkan obat-obatan untuk menurunkan kadar gula darah yang tinggi. Proses pengobatan umumnya diawali dengan obat dalam bentuk tablet dan kadang-kadang dengan kombinasi lebih dari satu jenis tablet. Kemudian diikuti dengan insulin atau obat lain yang diberikan lewat suntikan.

Pemantauan Kadar Gula darah

Menjalani tes HbA1c
Penderita diabetes dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan konsentrasi gula darah pada tiap 2-3 bulan. Pemeriksaan ini akan memperlihatkan tingkat kadar gula darah dalam beberapa bulan terakhir, serta keefektifan pengobatan Anda.
Ketika tubuh sedang memproses gula, gula dalam darah secara otomatis melekatkan diri pada hemoglobin. Makin tinggi kadar gula dalam darah, makin banyak hemoglobin yang terkait dengan gula dan hemoglobin inilah yang disebut HbA1c. Tes HbA1c mengukur jumlah hemoglobin yang mengandung glukosa.
Jika Anda memiliki kadar gula darah yang tinggi selama 2-3 bulan terakhir, hasil tes HbA1c akan menunjukkan angka yang tinggi sebagai indikasinya. Karena itu jenis pengobatan yang Anda jalani mungkin perlu diubah. Nilai rujukan normal untuk tes HbA1c penderita diabetes adalah di bawah 6,5%.
Bagaimana cara memantau kadar gula darah kita sendiri?
Pola makan sehat, berolahraga, dan meminum obat atau menjalani terapi insulin akan membantu Anda untuk menjaga keseimbangan kadar gula darah. Tetapi penyakit lain dan stres juga dapat berpengaruh. Faktor lain yang mungkin akan berdampak pada kadar gula darah Anda adalah:
  • Konsumsi minuman keras.
  • Meminum obat lain.
  • Perubahan hormon pada siklus menstruasi.
Menjalani pemeriksaan laboratorium tiap 2-6 bulan sekali sangatlah penting bagi penderita diabetes tipe 2. Selain itu, penderita juga dianjurkan untuk memantau kadar gula darah dengan melakukan tes sendiri di rumah.
Pemeriksaan di rumah dapat dilakukan dengan alat tes kadar gula darah berukuran kecil. Alat ini dapat digunakan untuk mendeteksi naik turunnya kadar gula dalam darah.
Kadar gula darah biasanya tidak selalu sama sepanjang hari dan dapat dipengaruhi oleh proses pengobatan yang Anda jalani. Maka Anda dianjurkan untuk memeriksanya beberapa kali dalam sehari. Pemantauan rutin akan membantu Anda untuk menjaga keseimbangannya.
Satuan ukuran untuk kadar gula darah yang digunakan secara umum di Indonesia adalah milligrams/deciliter atau biasa disingkat mg/dL. Anda sebaiknya memastikan satuannya terlebih dulu saat membeli alat tes gula darah.
Kadar gula darah pada tiap orang berbeda-beda, tapi rujukan normalnya adalah:
  • 72-108 mg/dL sebelum makan.
  • 180 mg/dL dua jam sesudah makan.

Obat-obatan yang Tepat untuk Mengatasi Diabetes Tipe 2

Keseimbangan kadar gula darah pada diabetes terkadang tidak dapat dijaga dengan baik hanya melalui penerapan pola makan sehat dan olahraga teratur. Anda juga mungkin membutuhkan obat-obatan untuk menanganinya.
Ada beberapa jenis obat (biasanya dalam bentuk tablet) yang dapat digunakan untuk diabetes tipe 2. Anda juga mungkin diberikan kombinasi dari dua jenis obat atau lebih untuk mengendalikan kadar gula darah Anda.
Metformin untuk mengurangi kadar gula darah
Metformin bekerja dengan mengurangi kadar gula yang disalurkan hati ke aliran darah dan membuat tubuh lebih responsif terhadap insulin. Ini obat pertama yang sering dianjurkan bagi penderita diabetes tipe 2.
Berbeda dengan obat-obat lain, metformin tidak menyebabkan kenaikan berat badan. Karena itu obat ini biasanya diberikan untuk penderita yang mengalami kelebihan berat badan.
Tetapi metformin kadang-kadang dapat menyebabkan efek samping yang ringan, misalnya mual dan diare. Dokter juga tidak akan menganjurkan obat ini untuk penderita diabetes yang mengalami masalah ginjal.
Sulfonilurea untuk meningkatkan produksi insulin dalam pankreas
Sulfonilurea berfungsi meningkatkan produksi insulin dalam pankreas. Penderita diabetes yang tidak dapat meminum metformin atau tidak kelebihan berat badan mungkin akan diberikan obat ini. Jika metformin kurang efektif untuk mengendalikan kadar gula darah Anda, dokter mungkin akan mengkombinasikannya dengan sulfonilurea. Contoh-contoh obat ini adalah:
Sulfonilurea akan meningkatkan kadar insulin dalam tubuh sehingga dapat mempertinggi risiko hipoglikemia jika salah pemakaiannya. Selain itu, obat ini memiliki efek samping sebagai berikut:
  • Kenaikan berat badan
  • Mual dan muntah
  • Diare
Glitazone (thiazolidinedione) sebagai pemicu terhadap insulin
Glitazone (misalnya, pioglitazone) biasanya dikombinasikan dengan metformin, sulfonilurea, atau keduanya. Obat ini berfungsi membuat sel-sel tubuh lebih sensitif terhadap insulin sehingga lebih banyak gula yang dipindahkan dari dalam darah.
Obat ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan pembengkakan pada pergelangan kaki. Anda tidak dianjurkan untuk meminum pioglitazone jika pernah mengalami gagal jantung atau berisiko terkena patah tulang.
Di beberapa negara, risoglitazone yang merupakan salah satu jenis obat glitazonetelah dicabut dari pasaran karena terbukti meningkatkan risiko penyakit jantungseperti serangan jantung dan gagal jantung. Jika mengkonsumsinya, konsultasikanlah potensi efek sampingnya dengan dokter Anda.
Gliptin (dipeptidyl peptidase-4 inhibitor) sebagai pencegah pemecahan GLP-1
Gliptin atau penghambat DPP-4 mencegah pemecahan hormon GLP-1 (glucagon-like peptide-1). GLP-1 adalah hormon yang berperan dalam produksi insulin saat kadar gula darah tinggi. Dengan demikian, gliptin membantu menaikkan tingkat insulin saat kadar gula naik.
Gliptin (misalnya, linagliptin, saxagliptin, sitagliptin, dan vildagliptin) dapat menghambat peningkatan kadar gula darah tinggi tanpa menyebabkan hipoglikemia. Obat ini tidak menyebabkan kenaikan berat badan dan biasanya diberikan jika penderita tidak bisa meminum sulfonilurea atau glitazone, atau dikombinasikan dengan keduanya.
Agonis GLP-1 sebagai pemicu insulin tanpa risiko hipoglikemia
Exenatide adalah agonis GLP-1 dengan kinerja yang mirip hormon GLP-1 alami. Obat ini diberikan melalui suntikan sebanyak dua kali sehari. Exenatide dapat memicu produksi insulin saat terjadi peningkatan kadar gula darah tanpa risiko hipoglikemia.
Sebagian besar penderita diabetes yang meminum exenatide juga dapat mengalami penurunan berat badan. Obat ini umumnya diberikan kepada penderita diabetes yang meminum metformin serta sulfonilurea dan mengalami obesitas.
Jenis agonis GLP-1 lainnya adalah liraglutide yang disuntikkan sekali dalam sehari. Penelitian membuktikan bahwa obat ini juga dapat menurunkan berat badan.Liraglutide juga umumnya diberikan pada penderita diabetes yang meminum metformin serta sulfonilurea dan mengalami obesitas.
Acarbose untuk memperlambat pencernaan karbohidrat
Acarbose memperlambat pencernaan karbohidrat menjadi gula dalam tubuh. Obat ini mencegah peningkatan kadar gula darah yang terlalu cepat setelah penderita diabetes makan.
Obat ini dapat menyebabkan efek samping diare dan perut kembung sehingga jarang digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2. Tetapi dokter tetap akan memberikannya jika penderita tidak cocok meminum obat lain.
Nateglinide dan repaglinide untuk melepas insulin ke aliran darah
Kedua obat ini akan merangsang pankreas untuk melepaskan lebih banyak insulin ke aliran darah. Fungsi nateglinide dan repaglinide tidak dapat bertahan lama, tapi efektif saat diminum sebelum makan. Jadi meski jarang digunakan, keduanya dianjurkan jika penderita memiliki jadwal makan pada jam-jam yang tidak biasa.
Semua obat tetap memiliki efek samping, termasuk nateglinide dan repaglinide. Efek samping dari kedua obat ini adalah hipoglikemia dan kenaikan berat badan.
Terapi Insulin sebagai pendamping obat-obatan yang lainnya
Obat-obatan dalam bentuk tablet bisa menjadi kurang efektif untuk mengobati diabetes sehingga Anda membutuhkan terapi insulin. Terapi ini dapat diberikan untuk menggantikan atau bersamaan dengan obat-obatan di atas, tapi tergantung dosis dan cara pemakaiannya. Ada beberapa jenis insulin yang bisa digunakan. Di antaranya:
  • Insulin kerja cepat yang tidak bertahan lama, tapi bereaksi cepat.
  • Insulin kerja singkat yang dapat bertahan maksimal delapan jam.
  • Insulin kerja panjang yang dapat bertahan satu hari.
Pengobatan untuk penderita diabetes juga mungkin menggunakan kombinasi dari jenis-jenis insulin di atas.
Melakukan suntikan insulin untuk diri sendiri
Pemberian insulin umumnya lewat suntikan karena insulin akan dicerna dalam perut dan tidak bisa masuk ke dalam darah jika diminum dalam bentuk tablet.
Dokter akan menjelaskan kapan Anda membutuhkan pemakaian insulin. Pada tahap awal pemakaian, dokter biasanya akan membantu Anda untuk menyuntikkan insulin. Selanjutnya Anda diajari cara menyuntik dan menyimpan insulin serta membuang jarum dengan aman.
Ada dua metode yang biasa digunakan untuk menyuntikkan insulin, yaitu lewat jarum dan alat suntik atau pena. Penderita diabetes umumnya membutuhkan 2-4 suntikan dalam sehari. Dokter atau perawat juga akan mengajari cara pemakaiannya pada teman dekat atau keluarga Anda.
Cara mengatasi hipoglikemia (kadar gula darah yang terlalu rendah)
Penderita diabetes tipe 2 umumnya menggunakan insulin atau jenis-jenis tablet tertentu untuk mengendalikan kadar gula darah. Metode pengobatan tersebut memiliki risiko untuk menyebabkan hipoglikemia.
Saat kadar gula darah Anda terlalu rendah, Anda akan mengalami hipoglikemia. Gejala-gejalanya antara lain rasa lemas, gemetaran, dan lapar. Kondisi ini dapat diatasi dengan mengonsumsi makanan atau minuman manis.
Penanganan awal untuk penderita diabetes yang mengalami hipoglikemia adalah dengan mengonsumsi sumber karbohidrat (minuman bergula atau tablet glukosa) yang dapat diserap dengan cepat. Setelah itu penderita boleh mengonsumsi sumber karbohidrat yang dapat bertahan lebih lama seperti sepotong wafer, sepotong roti isi, atau satu buah.
Langkah-langkah di atas umumnya dapat meningkatkan kadar gula darah agar kembali normal. Tetapi proses ini bisa membutuhkan waktu beberapa jam.
Hipoglikemia berat akan mengakibatkan penderita diabetes merasa linglung, mengantuk, bahkan kehilangan kesadaran. Jika mengalami kondisi ini, penderita diabetes harus segera diberi suntikan glukagon (hormon yang dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat) langsung pada otot atau vena. Dokter dapat mengajarkan cara penyuntikannya pada keluarga atau teman dekat Anda.
Alternatif dalam melakukan pengobatan penderita diabetes tipe 2
Penderita diabetes tipe 2 memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi (penyakit jantungstroke, atau penyakit ginjal). Karena itu dokter biasanya akan menyarankan obat-obat berikut ini untuk mengurangi risiko komplikasi, yaitu:
  • Statin (misalnya, simvastatin) untuk mengurangi kadar kolestrol tinggi.
  • Obat penurun tekanan darah tinggi.
  • Obat-obatan ACE Inhibitor, seperti lisinopril, enalapril, atau ramipril, jika ada indikasi penyakit ginjal diabetik. Perkembangan penyakit yang ditandai dengan adanya protein albumin dalam urin ini dapat disembuhkan jika segera ditangani.

Sabtu, 29 Agustus 2015

COLIC

KOLIK ADALAH

Kolik merupakan suatu bentuk nyeri dengan karakteristik berupa rasa nyeri mencengkram (spasmodik) yang bersifat hilang-timbul secara tiba – tiba. Kondisi ini dapat muncul pada segala usia, dengan kejadian tersering pada bayi, terutama pada usia 3 – 4 minggu. Kondisi ini secara umum terjadi akibat kontraksi otot pada organ – organ dalam perut sebagai mekanisme akibat hambatan terhadap alairan atau pergerakan dari suatu saluran pada tubuh. Gangguan – gangguan tersebut dapat bersifat sederhana dan tidak memerlukan penanganan yang serius ataupun berupa suatu penyakit yang yang dapat menyebabkan komplikasi –komlikasi yang serius jika tidak ditangani secara tepat.

PENYAKIT TERKAIT

Berikut adalah beberapa kondisi umum yang sering menyebabkan timbulnya gejala kolik pada bayi:
  • Akumulasi gas di dalam saluran cerna ketika menyusui atau menangis;
  • Imaturitas sistem saluran pencernaan;
  • Alergi makanan;
  • Kelaparan atau pemberian makan secara berlebihan;
  • Kurang tidur;
  • Pemberian susu yang dihangatkan secara berlebihan;
  • Stimulasi berlebih berupa cahaya, bunyi, dan aktivitas.

Pada usia dewasa, kolik dapat disebabkan oleh beberapa penyakit atau gangguan berupa:
  • Kolesistisis, yaitu peradangan kantung empedu;
  • Batu empedu (kolilitiasiskoledokolitiasis);
  • Batu ginjal (nefrolitiasis);
  • Batu ureter (ureterolitiasis);
  • Serta bebetapa kondisi lain seperti crohn's disease, kolitis unserativa, celiac disease, inflammatory bowel diseasepankreatitis.

PENGOBATAN

Pada kasus kolik yang terjadi pada bayi, tidak penanganan yang dapat diberikan berupa kompres hangat pada daerah perut bayi, pemijatan secara perlahan pada bagian unggung bayi, serta perbaikan cara pemberian susu. Perbaikan tersebut berupa menyusui bayi dalam posisi terduduk serta bayi disendawakan setiap setelah disusui. Pada kasus kolik yang terjadi pada usia dewasa, selain penanganan terhadap penyakit atau gangguan yang mendasari terjadinya kolik, pengangan juga dapat dilakukan dengan pemberian obat – obatan kelompok antispasmodik guna meredakan rasa nyeri yang timbul. Dikenal dua golongan obat antispasmodik, yaitu golongan antimuskarinik (atropine, butropium, dicycloverine, homatropine, hyoscine butylbromide, pinaverium) dan golongan relaksan otot polos (drotverine, papaverine, tiropramide). Beberapa jenis obat obat antispasmodik dapat menyebabkan pandangan menjadi kabur serta rasa kantuk, oleh sebabitu obat tersebut tidak dianjurkan untuk dikonsumsi saat sedang mengemudi serta majalankan mesin.

NYERI PERUT KIRI BAWAH

DEFINISI

Nyeri perut adalah keluhan umum yang sering ditemui dan memiliki sebab yang sangat luas. Lokasi nyeri perut dapat menjadi petunjuk penyebab nyeri berdasarkan letak organ perut. Nyeri perut pada bagian kiri bawah dapat berkaitan dengan gangguan otot perut, organ reproduksi, saluran kemih, atau saluran cerna.

GEJALA

Nyeri perut pada bagian kiri bawah dapat disertai berbagai gejala lain berdasarkan penyebab dasarnya. Gejala saluran cerna lain yang dapat menyertai antara lain keram perut, kembung, kesulitan buang air besar, mencret, mual, dan muntah. Selain itu, dapat terjadi gejala tambahan lain sepertidemam, keram otot, pegal – pegal, nyeri saat buang air kecil atau besar, nyeri saat berhubungan seksual, penurunan berat badan, benjolan pada perut, serta bintik merah pada kulit. Gejala sangat bervariasi tergantung penyebab dasar nyeri perut. Nyeri perut bagian kiri bawah dapat merupakan gejala penyakit berat yang memerlukan penanganan segera, yaitu pada nyeri perut disertaiperdarahan pada wanita hamil, demam tinggi, tidak dapat BAB dan disertai muntah, kekakuan perut, peningkatan denyut nadi, perdarahan dari anus, muntah darah, serta tusukan atau benturan perut.

PENYEBAB

Nyeri perut kiri bawah pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh peradangan kantung usus (divertikulitis). Selain divertikulitis, gangguan saluran cerna lain yang dapat menyebabkan nyeri perut kiri bawah adalah radang usus buntu, penyakit Chron, radang permukaan usus (enteritis), radang usus yang disertai luka (kolitis ulseratif), pecahnya usus (ruptur kolon), serta sumbatan usus (akibat tumor usus, gumpalan feses). Gangguan organ reproduksi pada wanita yang menimbulkan nyeri perut kiri bawah antara lain nyeri haid, adanya jaringan rahim di luar rahim (endometriosis), kista indung telur, serta peradangan atau infeksi pada indung telur, rahim, atau mulut rahim. Pada pria, penyebab gangguan organ reproduksi antara lain hernia atau peradangan saluran sperma. Batu atau peradangan pada saluran kemih bagian kiri juga merupakan kemungkinan penyebab nyeri perut kiri bawah. Penyebab yang tidak serius juga sering terjadi, seperti nyeri otot perut atau timbunan gas pada usus.

PENGOBATAN

Pengobatan bervariasi tergantung pada penyebab dasar. Pada peradangan daerah usus, diperlukan antibiotik dan diet lunak atau cair. Sumbatan usus akibat tumor, pecahnya usus, kista, hernia, radang usus buntuk, dan batu saluran kemih mungkin memerlukan tindakan bedah. Nyeri karena haid, endometriosis, serta gangguan otot dapat dikurangi dengan pemberian obat anti-nyeri. Peradangan panggul memerlukan antibiotik.

GE

GASTROENTERITIS ADALAH

Penyakit ini sering disebut diare atau mencret. Padahal mencret hanyalah salah satu dari kumpulan gejalagastroenteritis. Jika dilihat dari golongan umur dan frekuensinya, belum tentu juga semua mencret bisa disebut diare. Yang dimaksud diare menurut organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) adalah kejadian buang air besar dengan bentuk tinja yang lebih cair dari biasanya, dengan frekuensi lebih sering dari biasanya, selama satu hari atau lebih. Jadi, konsistensi tinja atau kotoran yang ditekankan. Penyebutan diare pada bayi menyusui akan berbeda dengan dewasa. Bayi yang memperoleh air susu ibu (ASI) eksklusif biasanya mengeluarkan tinja yang agak cair, di mana frekuensinya bisa 5 kali sehari. Hal ini juga belum bisa disebut diare.
Gastroenteritis sering disingkat dengan GE. Kasus GE masih menjadi perhatian karena sering menyebabkan kematian terutama pada bayi dan anak-anak, golongan lanjut usia, serta orang yang memiliki masalah dengan daya tahan tubuh rendah. Lebih banyak kematian terjadi di negara yang sedang berkembang dengan tingkat kebersihan yang rendah. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI), WHO menyebutkan angka kematian karena diare di Indonesia sudah menurun, tapi angka penderitanya tetap tinggi, terutama di negara berkembang. Kasus rawat inap karena diare pun masih menempati urutan atas di setiap rumah sakit di Indonesia pada tahun 2008.

GEJALA

Penyakit yang melibatkan saluran cerna ini umumnya memunculkan gejala mual, muntah, buang air besar yang encer atau mencret beberapa kali/diare, kadang demam ringan atau meriang, dan yang lebih jarang yaitu kejang perut. Dari kondisi kekurangan cairan atau dehidrasinya, penderita bisa disebut termasuk diare tanpa dehidrasi, diare dehidrasi ringan/sedang, atau diare dehidrasi berat.
  • Pada kasus tanpa dehidrasi, setidaknya memenuhi 2 atau lebih tanda berikut, yaitu keadaan umum penderita baik, mata tidak tampak cekung, minum seperti biasa, dan kulit perut saat dicubit atau dijepit (disebut pemeriksaan turgor) kembali dengan cepat.
  • Untuk dehidrasi ringan/sedang, penderita biasanya gelisah atau rewel, mata tampak cekung, haus dan ingin minum banyak, serta turgor kembali lambat.
  • Jika sudah dehidrasi berat, penderita tampak sangat lesu hingga tidak sadar, mata tampak cekung, malas atau tidak bisa minum, dan turgor kembali sangat lambat lebih dari 2 detik.

Perlu juga diketahui ada atau tidaknya darah di muntahan serta tinja. Ini menentukan tindakan perawatan dan pengobatan selanjutnya. Sebaiknya, penderita mengkonsultasikan dengan dokter bila ada keluhan mual, muntah, diare yang masih berlangsung hingga lebih dari dua hari. Waspadai juga jika keluhan bertambah parah menjadi muntah dan diare yang disertai darah, demam tinggi, dan tanda-tanda kekurangan cairan. Tanda-tanda dehidrasi lain yang mungkin ditemukan yaitu rasa pusing yang berat, kulit bibir jadi kering, urin atau kencing tampak kuning pekat, kencing atau berkemih yang jarang, bahkan hingga tidak kencing dalam waktu yang lama. Pada bayi bisa terlihat ubun-ubun cekung.

PENYEBAB

Gastroenteritis bisa disebabkan karena infeksi dan non-infeksi. Penyebab GE terbesar adalah karena infeksi. Gastroenteritis infeksi bisa disebabkan oleh organisme virus, bakteri, dan atau parasit. Tersering disebabkan oleh virus, yaitu rotavirus, yang terkait dengan diare akut.
Sedangkan penyebab non-infeksi bisa terjadi karena alergi makanan, minuman, obat-obatan, dan keracunan, misalnya pada bayi menyusui karena ibunya mengalami perubahan pola diet. Efek samping makanan, minuman, dan obat yang dikonsumsi juta turut punya andil sebagai penyebab keluhan di perut ini.
Menurut perjalanan penyakitnya, gastroenteritis dibedakan menjadi gastroenteritis akut, akut berdarah, dan persisten. Viruslah yang paling sering dikaitkan dengan kasus gastroenteritis akut. GE jenis ini disebut akut karena sifat pemunculan gejalanya yang tiba-tiba, tapi cepat membaik dalam hitungan hari hingga 2 mingguan sesuai perjalanan alamiah penyakitnya. Gastroenteritis akut berdarah sering disebut disentri. Ada keterlibatan organisme yang merusak usus dan ditemukannya darah dalam tinja. Jika gastroenteritis berlanjut hingga lebih dari 14 hari, maka disebut persisten. Seringpula terjadi pada penderita dengan status gizi buruk, mengalami masalah dengan sistem kekebalan tubuh, dan sedang dalam keadaan infeksi.
Virus, bakteri, atau parasit penyebab bisa masuk ke saluran cerna melalui mulut atau melalui perantara makanan dan minuman tercemar yang dikonsumsi, sehingga penyakit ini disebut food borne disease. Bahkan rotavirus diduga dapat menular lewat udara. Setelah masuk ke saluran cerna melewati hadangan asam lambung, organisme menuju ke usus. Di usus ini organisme penyebab diare berkembang biak. Mereka mampu mengubah struktur dinding usus, menimbulkan peradangan, mengeluarkan toksin, dan mengganggu kerja sel usus dalam proses pencernaan dan penyerapan makanan/minuman. Hal ini menyebabkan gerak khas kontraksi atau peristalsis dinding usus meningkat. Gelombang kembung kempis ini memaksa isi usus yang belum tercerna dan terserap dengan baik terus maju dan meluncur makin ke bawah menuju pembuangannya, sehingga terjadilah mencret.

PENGOBATAN

Penanggulangan utama diare disusun oleh Depkes RI dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Lima Langkah Tuntaskan Diare (Lintas Diare). Langkah-langkah tersebut yaitu (1) oralit formula baru, (2) pemberian zinc selama 10 hari, (3) melanjutkan pemberian ASI dan makanan,  (4) pemberian antibiotika tertentu sesuai indikasi, dan (5) konseling/nasihati ibu. Pertolongan pertama yang bisa dilakukan jika terserang gastroenteritis antara lain hindari kontak dengan terduga penyebab, pencegahan kekurangan cairan atau jangan sampai dehidrasi, dan istirahat yang cukup.
Cairan tubuh yang hilang karena muntah, buang air, dan demam, harus segera diganti untuk mencegah dehidrasi. Juga selalu ingat untuk selalu mencuci tangan. Jika tersedia oralit, berikan segera. Oralit adalah campuran garam elektrolit. Oralit berosmolaritas rendah seperti yang telah beredar di pasaran saat ini sangat direkomendasikan karena dapat mengurangi sensasi mual dan muntah. Campurkan satu bungkus oralit ke dalam satu gelas air minum, lalu diaduk rata, dan pastikan penderita meminumnya.
Jika belum tersedia oralit, bisa berikan cairan rumah tangga (CRT) seperti air tajin, kuah sayur, atau cukup air matang. Sesuaikan dosis oralit dengan status dehidrasi dan umur penderita. Penderita sebaiknya segera dibawa ke sarana kesehatan jika tidak mampu minum yang cukup untuk dipertimbangkan pemberian cairan melalui pembuluh darah atau infus.
  • Untuk diare tanpa dehidrasi bisa diberikan oralit sebanyak ¼ – ½ gelas (umur < 1 tahun),  ½ – 1 gelas (1 – 4 tahun), dan 1 – 1 ½ gelas (> 5 tahun) tiap kali mencret.
  • Pada diare derajat ringan/sedang, oralit 3 jam pertama diberikan sebanyak 75 ml/kg berat badan. Pemberian selanjutnya sesuai dengan diare tanpa dehidrasi.
  • Penderita diare dengan dehidrasi berat sebaiknya dibawa ke sarana kesehatan untuk mendapat infus.

Pemberian suplemen mikronutrien zinc atau seng segera setelah mengalami diare dianjurkan karena terbukti bisa mengurangi lama dan keparahan diare, mengurangi seringnya mencret, mengurangi banyaknya kotoran, dan mengurangi risiko kekambuhan 3 bulan kemudian. Dianjurkan untuk tetap minum zinc hingga 10 hari setelah diare berhenti.
Jika masih bisa makan dan minum, berikan makanan dan minuman dalam porsi yang lebih sedikit, tapi lebih sering. Prinsipnya adalah memberikan suatu yang mudah dicerna seperti bubur dan berkuah, rendah serat, sehingga tidak membuat saluran cerna bekerja terlalu keras memprosesnya, dan tidak mengiritasi saluran cerna. Untuk bayi dan anak, kalau tidak bermasalah dengan diet ibunya, boleh melanjutkan air susu ibu seperti biasa. Hal yang sama berlaku untuk bayi dan anak yang mendapat susu formula, bahkan pemberiannya harus lebih sering dari biasanya untuk mencegah penurunan berat badan. Setelah penyembuhan pun makanan ekstra harus tetap diberikan untuk menunjang perbaikan berat badan.
Konsumsi obat-obatan seperti antimual, antimuntah, antidiare, dan terutama antibiotika harus benar-benar selektif menurut pertimbangan dokter, apalagi jika penderita adalah bayi dan anak-anak. Perlu diingat bahwa muntah dan diare dalam batas tertentu bisa dianggap sebagai respon alami tubuh untuk mengeluarkan benda asing, racun/toksin, dan organisme penyebab. Kembali ke pertimbangan rasionalitas, efektivitas, dan efek samping obat.
Pemerintah juga menekankan pemberian konseling dan nasihat jika terjadi hal-hal yang lebih berat. Kalau diare menjadi lebih sering, muntah berulang yang menghambat rehidrasi oral, sangat haus, sedikit makan dan minum, disertai demam, tinja berdarah, dan tidak ada perbaikan dalam 3 hari, periksakan kembali penderita ke sarana kesehatan.
Pencegahan lebih baik dibanding pengobatan. Kebiasaan menjaga dan memperbaiki kondisi kesehatan atau higiene dan sanitasi tetap menjadi upaya ampuh yang sederhana untuk mengurangi risiko terkena penyakit, misalnya mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum kontak dengan mulut, sebelum menyiapkan makanan/minuman, sebelum memegang bayi, dan sebelum menyuapi anak. Jangan lupa cuci tangan juga setelah buang air besar dan kecil. Gunakan selalu jamban dengan benar dan pengelolaan buang sampah yang baik.

DEMAM

DEMAM ADALAH

Demam atau pyrexia merupakan salah satu gejala umum yang paling sering dialami seseorang ketika sakit, tubuh dapat dikatakan demam bila suhu tubuh melebihi batas normal yaitu 36,5 hingga 37,5 º C. Terdapat beberapa istilah yang berhubungan dengan suhu tubuh, diantaranya adalah hipotermia (suhu tubuh < 35º C), suhu normal (36,5 – 37,5 º C), demam (>37,5º C), hyperpyrexia (>40º C). Beberapa lokasi tubuh yang dapat dijadikan lokasi acuan untuk mengukur suhu diantaranya adalah mulut, ketiak (aksila), anus (rektal),  dan telinga (otic). Pengukuran suhu pada anus akan menunjukkan suhu normal sedikit lebih tinggi (37,5 – 38,3º C).

PENYAKIT TERKAIT

Demam sebagai gejala dari sebuah penyakit dapat membantu tenaga kesehatan dalam membantu menentukan beberapa penyebab dari demam atau penyakit yang sedang diderita oleh seseorang dengan mengetahui jenis dari demam yang dialami. Beberapa jenis demam adalah sebagai berikut:
  1. Demam kontinyu, demam ini berlangsung terus menerus dan tidak berfluktuasi lebih dari 1º C selama 24 jam. Tipe demam kontinyu dapat disebabkan oleh infeksi pneumonia, infeksi tifus atau tifoid (demam lebih tinggi pada malam hari), dan infeksi saluran kencing.
  2. Demam remiten, karakteristik demam remiten ditandai dengan demam naik turun lebih dari 1º C tetapi tidak mencapai suhu normal. Salah satu penyebab demam remiten adalah infeksi endokarditis, dan demam jantung rematik.
  3. Demam intermiten, karakteristik demam ini ditandai dengan naik turunnya suhu tubuh dari demam menjadi suhu normal kemudian menjadi demam kembali dalam periode waktu tertentu. Penyebab demam intermiten adalah malariaPlasmodium falciparum atau Plasmodium knowlesi dapat menyebabkan demam dengan periode 24 jam, Plasmodium vivax atau Plasmodium ovale dapat menyebabkan demam dengan periode 48 jam sekali, Plasmodium malariae dapat menyebabkan demam dengan periode 72 jam sekali.
  4. Demam bifasiq, demam ini dikarakteristikan dengan demam yang tinggi kemudian hilang dan akan kembali meningkat. Penyebab demam bifasiq antara lain virus demam berdarah, dan leptospirosis.

Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demam adalah :
  1. Penyakit infeksi baik disebabkan oleh virus, bakteri, maupun infeksi parasit;
  2. Beberapa peradangan kulit seperti bisul atau abses;
  3. Penyakit auto imun atau imunologis seperti lupus, sarkoidosis, Kawasaki, dan penyakit Wegener;
  4. Penyakit kerusakan jaringan seperti hemolisis, operasi, infark, dan perdarahan otak;
  5. Reaksi alergi seperti alergi makanan, alergi debu, maupun alergi saat transfusi;
  6. Penyakit keganasan sel seperti kanker jinak maupun kanker ganas;
  7. Penyakit metabolik seperti asam urat maupun radang sendi.

PENGOBATAN

Pengobatan konservatif dari demam yang dapat dilakukan adalah dengan mengkompres tubuh untuk mengurangi suhu tubuh dengan kain atau washlap lembab, proses mengkompres dapat dilakukan dengan menggunakan air dingin maupun air hangat.
Penatalaksanaan lain dari demam adalah dengan medikasi menggunakan obat anti demam sepertiparasetamolibuprofen, maupun aspirin/aspilet.